Pages

Tampilkan postingan dengan label Diary of Nightmare. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary of Nightmare. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

Diary of Nightmare: Ice Princess





Chapter two: Ice Princess

Di pagi yang cerah, Rachel bersiap pergi sekolah.
“ Pak Dim, semuanya sudah siap pak? Kita berangkat ke sekolah sekarang. ” Kata Rachel
“ Siap Non” ujar Pak Diman. Pak Diman adalah supir pribadi milik Rachel yang selalu mengantarnya kemanapun ia inginkan. Di dalam perjalanan menuju sekolah..
“ Pak Dim, Rachel mau cerita sesuatu ”, kata Rachel kepada Pak Diman yang sedang menyetir.

“ Cerita tentang apa Non? “, tanya Pak Diman.
“ Tadi malam, Rachel memimpikan Kak Jemmy. Di dalam mimpi Rachel, Rachel bersama Kak Jemmy sedang menunggu matahari terbenam di bukit belakang Villa. Kami berdua merebahkan tubuh, menatap langit. Rachel menatap wajah Kak Jemmy, dia memejamkan mata sambil tersenyum. Ketika Rachel menayakan kabar dan alasanya meninggalkan Rachel, Kak Jemmy memandangi Rachel dalam sambil membelai rambut Rachel. Saat Rachel ingin memeluk tubuh Kak Jemmy, tiba-tiba ia menghilang, meninggalkan Rachel lagu, lalu Rachel terbangun “, Rachel membendung air matanya.
“ Bagaimana kabar Kak Jemmy sekarang? Apakah ia baik-baik saja? “, tanya Rachel.
“ Den Jemmy pasti baik-baik saja “, jawab Pak Diman.
“ Non Rachel sudah tujuh tahun tidak pernah lagi mengunjungi villa semenjak Den Jemmy pergi. Apakah Non Rachel tidak mau mengunjungi untuk sesekali? ”, tanya Pak Diman.
“ Mengunjungi Villa, membuat Rachel selalu teringat Kak Jemmy. Mungkin belum saatnya Rachel mengunjungi Villa ”, jawab Rachel
 “ Pak Dim, Apakah pohon besar di bukit belakang Villa masih ada ? “, tanya Rachel.
“ Tentu Non. Pohon besar di bukit belakang Villa masih tetap tumbuh sama seperti tujuh tahun lalu. ”, jawab Pak Diman.
“ Syukurlah, Rachel juga rindu bermain di bukit belakang Villa”, ucap Rachel.

“ Non, kita sudah sampai di sekolah”, kata Pak Diman.
“ Pak Diman, nanti jemput Rachel seperti biasanya ya Pak”, kata Rachel.
“ Baiklah Non, nanti Pak Diman jemput pada pukul 16.30 ”, jawab Pak Diman.
“ Baiklah, Terimakasih ya Pak “ ucap Rachel kepada Pak Diman yang dibalas dengan anggukan kepala Pak Diman di Dalam mobil yang melaju keluar area sekolah.

 Rachel bergegas menuju ke ruang loker. ketika Rachel berjalan menuju ruang loker, ia melewati lapangan basket dan melihat Gio dan teman-temanya sedang bemain basket.
“ Hai Rachel, bagaimana kabarmu hari ini, cantik? “, Tanya Gio seraya merayu.
“ Kabarku baik, dan aku yakin hari ini semua akan berjalan sesuai dengan baik.
Apakah kau sudah mengerjakan tugas Geometri? Bukankah kau harus menghadiri kelasnya saat ini? ”,  Tanya  Rachel
 “ Astaga !! kau benar.. guru Killer itu. Aku harus menghadiri kelasnya sekarang juga”, jawab Gio. Dengan segera Gio menghentikan permain dan merapikan dirinya lalu ia menghampiri Rachel.
“ Oh ya Chel,  sebelum kau ke kelas jangan lupa periksa lokermu hari ini. Aku mempunyai sesuatu di lokermu… Bye-bye Rachel ” ucap Gio sambil berlari dengan terburu-buru menuju kelas.

Di ruang loker, Rachel menemukan setangkai mawar merah cantik dengan sepucuk surat di dalam lokernya.


“ A beauty flower for beautiful Girl…  From your admirer “
Gio…


Apatis, itulah yang tersirat dari ekspresi Rachel saat melihat bunga dan membaca surat Gio di lokernya. Sebesar apapun usaha Gio untuk lakukan, tidak akan dapat meluluhkan dinginya hati  Rachel.
“ Lelaki bodoh, dia pikir setangkai bunga dapat meluluhkan hatiku?! ” ucap Rachel, lalu membuang bunga mawar dan merobek surat kecil dari Gio.

Di akhir jam pelajaran.. “ oke anak-anak, pelajaran cukup sampai di sini.. sekarang saya akan memberikan tugas kelompok untuk kalian semua… tugas paper kali ini berkaitan dengan peradaban manusia prasejarah. Deadline tugas 1 minggu, di kirimkan ke email saya. Sekian pertemuan kita hari ini “ papar Bu Anggie di depan kelas. Kelas pun berakhir.
“ Hai Rachel.. apakah kau mau mengerjakan tugas bersama ku? “, kata Nina menawarkan.
“ Maaf, aku bisa mengerjakan tugas ini sendiri. Aku tidak membutuhkan pertolongan orang lain “, jawab Rachel. 
“ Ohh, begitu… “, ucap nina dengan kecewa.
“ Aku harus segera ke suatu tempat, bisakah kau tidak menutupi jalanku? “, kata Rachel.
“ maafkan aku ”, sesaal Nina.
Bel berbunyi, jam pelajaran telah selesai. semua siswa merapikan buku dan alat tulis mereka lalu bersiap pulang. Belum sempat Rachel keluar dari kelas, secara tiba-tiba Gio menghadangnya,
“ Chel, kamu sudah melihat lokermu?” tanya Gio
“ Ahh kau mengagetkanku.. Sudah, memangnya kenapa?” jawab Rachel terkejut.
“ Apakah kau menemukan sesuatu?” tanya Gio tersipu.
“ Hmm… aku menemukan setangkai bunga mawar merah yang sangat indah di lokerku. Apakah itu dari mu? ”, tanya Rachel manis
“ Ya, Apakah kau menyukainya?” tanya Gio.
“ Tentu, aku sangat menyukainya. Aku akan menyimpan mawar indah itu ”, jawab Rachel yang menggetarkan hati Gio.
“  Aku senang jika kau menyukai mawar itu. Hmm maukah kamu pulang bersama ku?” sahut Gio
“ Oh Gio, terima kasih atas tawaranya tetapi maaf, Pak Diman telah menunggu ku”. Jawab Rachel
“ Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa mu. Hati-hati Rachel ” ucap Gio kecewa.
“  Terima kasih Gio. Di lain waktu, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk berdua bersama mu”, jawab Rachel dengan kerlingan mata yang menggoda.
“ Baiklah aku akan menunggumu.. bye Rachel.. “, ujar Gio.
Bukanlah hal yang sulit bagi Rachel menolak rayuan dan tawaran Gio.  Rachel hanya berpura-pura baik di depan Gio hanya demi citranya, walaupun sesungguhnya Rachel sangat tidak menyukai Gio.
“ Lelaki tak berguna. Hanya membuang waktuku saja”, ucap Rachel kesal dalam hati.


Di lapangan, Gio menghampiri Drew dan Frans yang sedang bermain basket.
“ Hei bro, bagaimana usahamu hari ini? Berhasilkah? “, tanya Frans.
“ Hahaha, dari raut wajah lu telah terlihat sebuah kekalahan.. “ selak Drew. “ Apa yang ngebuat lu sangat patang menyerah untuk ngedapetin si Ice Princess? Hah? “
“ Apa loe bilang? Kekalahan?! Gio tidak akan pernah kalah, suatu saat nanti Rachel akan bertekuk lutut dihadapan gue, semua usaha gue akan terbayar “, jawab Gio.
well, gue tunggu apakah Casanova Prince bisa meluluhkan hati Ice Princess. Atau akankah teman kita kali ini akan gagal meraih obsesinya?? Haha “, tantang Drew.
“ Berani taruhan apa lu kalo gue berhasil ngedapetin Rachel?? “, tantang Gio balik.
“ Oke kalo lu berhasil ngedapetin dia seperti cewek-cewek yang berhasil lu taklukin sebelumnya, gue bakal ngetraktir dan jadi supir lu berdua selama sebulan. Bagaimana Tuan Muda, Deal..?! “, jawab Drew.
“ Oke gue bakal buktiin ke lu berdua, dan lu Drew siap-siap aja lu jadi supir kita berdua minggu depan.. “, ujar Gio percaya diri.
“ Sudah-sudah, mari kita sudahi perdebatan di sore hari ini.. bagaimana jika kalian berdua gue traktir hangout malem ini, gimana?! Gue bosan mendengar kalian berdua berdebat “, kata Frans menengahi.
“ Oke cepet kita pergi hangout.. udah suntuk banget gue “, ucap Gio.
“ Weits bro, lu gak suntuk gara-gara gue kan?? Hahaha “, kata Drew.
“ Oke sekarang kita naik mobil gue, suruh supir-supr kalian buat mengambil mobil klian masing-masing di parkiran “, ujar Frans.

Rachel bergegas menuju lobby sekolah, di koridor sekolah secara tak sengaja ia bertabrakan dengan Nina. Nina terjatuh, buku-buku yang ia bawa berserakan di sekelilingnya.
“ Hei kau ! Sudah pakai kacamata, masih saja menabrak orang sembarangan ! ” teriak Rachel pada Nina
“ Ma…maafkan aku”, ucap Nina tertunduk
“ Cepatkau bereskan semua buku-buku mu dari jalanku..! ” perintah Rachel.
Secara mengejutkan, Sisyl yang memperhatikan Rachel dan Nina dari kejauhan datang.
“ Astaga Nina, apakah  Rachel meyakiti hatimu? ” kata Sisyl sambil membatu Nina membereskan buku-bukunya.
“ Aku tidak apa-apa kok Syl”, jawab Nina.
“ Benarkah?! Kalau begitu, cepat pergi dari sini”, ucap Sisyl sambil mengusir Nina.
“ Tapi, aku tidak bisa melihat dengan jelas tapa kacamataku. Aku tidak bisa menemukanya “, kata Nina
“ kacamata mu?! Oh itu dia.. “
Sisyl menemukan kacamata Nina, dan menginjaknya dengan sengaja, “ Ups, maaf.. aku telah menginjak kacamatamu “
“ Cepat pergi sekarang juga..!! “, teriak Sisyl.
Nina pergi dengan menahan tangis akibat perlakuan Sisyl kepadanya.
“ Halo, putri yang bermuka dua”, sapa Sisyl
“ Mau apa kau dengan ku? Aku tak punya waktu berurusan dengan orang seperti mu”, jawab Rachel ketus.
“ Apakah sekarang kamu sedang sibuk membunuh rasa sepimu  tuan putrid yang pintar merayu?”, tanya Sisyl menyindir.
“  Apa maksud ucapanmu..!! ”, cerca Rachel.
“ Tuan putri yang manis dan baik hati, berhentilah kau mengoda pada Gio”, kata Sisyl.
“ Betapa lucunya dirimu Sisyl. Gio yang selalu merayuku selama ini”, jawab Rachel.
“ Hahahaha, apakah kau berharap Gio untuk merayu mu? Betapa menyedihkanya dirimu”, ucap Sisyl sambil tertawa kecil.
“ Apa yang kau tertawakan?! Lagi pula apakah Gio salah memilih aku yang jauh lebih baik dari mu?” serang Rachel.
“ Apa yang katakana tadi?! Apa maksudmu kau lebih baik dariku?!”, Ucap Sisyl tak terima.
“ Sudahlah, waktuku terbuang percuma untuk berdebat dengan orang yang tak sepadan dengan ku. Aku harus pergi mengejar sesuatu yang lebih berarti dari pada harus berdebat dengan orang seperti mu”, seru Rachel seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Sisyl dan gerombolanya.
“ Tutup mulutmu Rachel!! Aku tak terima dengan semua ucapanmu! Akan kubalas kau suatu saat nanti!”, teriak Sisyl.
“ Akan ku tunggu saat itu, aku takan pernah takut padamu!” jawab Rachel dari dalam mobilnya.

Setelah kejadian diantara Sisyl dan Rachel di sore hari itu, terjadilah sebuah perang dingin diantara mereka berdua. Kedua orang yang mempunyai pengaruh di lingkungan sekolanya ini telah mengimbaskan konflik mereka ke semua siswa..
Menyebar bagaikan partikel debu yang tertiup angin.

Jumat, 22 Juni 2012

Diary of nightmare: Malam, Kenangan.... Sepi


Chapter one: Malam, Kenangan... Sepi

“ Sepi,,, mengapa hanya perasan itu yang selalu ku rasakan.
Uhh aku bosan sendiri. Hanya bisa menatap orang-orang yang ku sayang dalam foto.
Mama, Papa, sudah beberapa tahun tak kunjung pulang. Kak Jemmy yang berjanji menemaniku, sampai saat ini meninggalkanku dan tak pernah kembali.
Apakah aku akan selalu sendiri?   ” ucap Rachel.

Matahari mulai kembali keperaduanya dan langit pun mulai berwarna jingga. Rachel duduk termanggu menatap senja yang perlahan menggelap. Beranjak dari balkon kamar, Rachel membuka album foto, mencoba mengingat kembali masa-masa indah bersama keluaranya yang ia rindukan.

“ Non Rachel, makan malam sudah siap non” seru Bi Asih dari luar kamar
“ Iya Bi, tunggu sebentar. Rachel turun sebentar lagi” jawab Rachel.
“ Midnite, ayo kita turun. Bi Asih sudah menunggu kita di ruang makan ” kata Rachel pada Midnite.
Rachel keluar dari kamarnya dan segera menuju ke ruang makan,
“ Bibi sudah siapkan makanan kesukaan Non Rachel ”, kata Bi Asih.
“ Wah lezatnya… ”, sahut Rachel.
“ Ayo Non cepat di makan, nanti keburu dingin”,  Bi Asih sambil menyajikan makanan.
“ Hmmm… sup asparagus buatan Bibi memang yang paling lezat”, puji Rachel.
“ Terimakasih Non “, Bi Asih tersenyum.

“ Bi, apakah rumah ini terlalu besar untuk kita huni? Ataukah rumah ini terlalu sepi? Terkadang Rachel merasa hidup sendiri ”, keluh Rachel.
“ Non Rachel jangan merasa begitu “, jawab Bi Asih
“ Apakah Mama dan Papa melupakan Rachel di sini. Apakah mereka tak tahu bahwa Rachel selalu merindukan mereka?” tanya Rachel.
“ Non Rachel jangan berprasangka seperti itu. Bersabarlah Non, suatu saat pasti orang tua Non Rachel pasti akan pulang”, ujar Bi Asih sambil menuangkan secangkir teh untuk Rachel.
“ Rachel merasa mungkin Bi Asih lebih menyayangi Rachel di bandingkan dengan Mama “, ucap Rachel.
“ Non Rachel tidak boleh berkata begitu. Bibi sudah merawat Non bagaikan anak Bibi sendiri. Walaupun begitu, orangtua Non Rachel pasti juga menyayangi Non sama seperti Bibi. Sudah-sudah Non Rachel jangan bersedih lagi ”, hibur Bi Asih.
“Terimakasih Bi, teh bunga krisan buatan Bibi selalu bisa membuat Rachel merasa tenang”, ucap Rachel.

Ketika tengah malam datang. Rachel yang tengah bersiap untuk tidur, membuka lebar pintu kamarnya dan berhembus angin malam menyempurnakan keheningan malam. Ia  memandangi langit yang begitu kelam, tak ada satupun bintang yang bersinar malam itu. Hanya bulan yang temaram di telan gelap. Dalam benaknya, terputar kembali masa-masa Rachel bersama Jemmy, sepuluh tahun yang lalu………

“ Dooor..!!! “ Rachel mengejutkan Jemmy yang sedang duduk, membaca bukunya di bawah pohon besar.
“ Kak Jemmy, kita main petak umpet yuk… “, ajak Rachel.
“ Bermain petak umpet? “, tanya Jemmy heran.
“ Iya, kita bermain petak umpet. Bukit ini sangat luas. Pasti sangay mengasyikan jika kita permain petak umpet. “, kata Rachel.
“ Baiklah, tetapi siapa yang akan berhitung? Rachel atau Kak Jemmy? “, Tanya Jemmmy.
“  Rachel yang akan berhitung hingga sepuluh. Kak Jemmy harus bersembunyi, lalu Rachel akan mencari Kak Jemmy”, seru Rachel antusias.
“ Baiklah ” Jemmy tersenyum sambil mencubit pipi Rachel.
“ Oke, Rachel akan mulai berhitung.
Satu… dua… tiga… “

Saat Rachel mulai berhitung , Jemmy segera mencari tempat bersembunyi. Setelah berlari beberapa meter, ia menemukan rerimbunan ilalang. Jimmy merunduk dan merangkak masuk ke dalam rerimbunan ilalang.

 “ Kak Jemmy sudah bersembunyi... Ayo cari Kak Jemmy..!! “, teriak Jemmy pada Rachel.  

“ Delapan… Sembilan… sepuluh… Rachel sudah selesai menghitung. Sekarang Rachel akan mencari Kak Jemmy”, seru Rachel.
“ Kak Jemmy, dimana ya kak Jemmy”. Rachel terus mencari Jemmy.

Melihat Rachel berjalan semakin dekat menuju ke tempat persembunyianya, ia mundur perlahan sambil tetap memperhatikan Rchel dari celah rerimbunan ilalang, masuk lebih dalam. Jemmy yang tak sadar bahwa terdapat lembah curam di belakangnya, tiba-tiba terjerembab, ia tertimpa bebatuan yang jatuh dari atas, kepalanya terbentur batu yang membuatnya pingsan, tak sadarkan diri.

“ Kak Jemmy… dimana kak Jemmy…? “, teriak Rachel sambil mencari Jemmy. Ia terus mencari Jemmy, sambai akhirnya lelah dan menyerah.
“ Kak Jemmy. Rachel sudah lelah mencari. Sekarang Kak Jemmy boleh keluar. Kita sudahi permainan ini. Rachel lelah ”, ucap Rachel kelelahan.
“ Kak Jemmy, Kak Jemmy ayo keluar dari persembunyian Kakak ”, seru Rachel memanggil Jemmy untuk keluar dari tempat persembunyianya.

Jemmy tak juga muncul. Rachel mencari Jemmy yang ia kira masih bersembunyi. Ia terus mencari sambil tetap memanggil-manggil namanya yang tak kunjung muncul.

“ Kak Jemmy, Kak Jemmy dimana…? ayo cepat keluar. Rachel sudah lelah mencari Kak Jemmy”, ucap Rachel kelelahan. Tiba-tiba rintik hujan turun dan semakin  deras membasahi tubuh Rachel.
“ Kak Jemmy, ayo cepat keluar Kak, hujan mulai turun”, seru Rachel sambil berlari mencari tempat berteduh.
 Hujan turun semakin deras, langit pun menghitam, dan petir bersaut-sautan. Rachel berteduh di pohon besar memeluk buku Jemmy. Seluruh tubuhnya basah, badanya menggigil kedinginan, Rachel menangis ketakutan sambil tetap menunggu Jemmy.
“ Kak Jemmy dimana? Rachel takut, Rachel kedinginan.. cepat ke sini Kaak… ”, ucap Rachel menangis.

Beberapa jam kemudian, hujan mereda. Di bawah pohon besar, Rachel masih menangis, menggenggam buku Jemmy dalam pelukanya dengan tubuh yang basah. Terlihat samar dari kejauhan, Jemmy dengan pakaian yang basah, kotor dan tubuhnya berlumuran luka, Sambil memegang keningnya yang berdarah Jemmy berjalan dengan pincang menuju Rachel. Rachel yang melihat Jemmy dari kejauhan langsung berlari menuju Jemmy dan memeluknya.

“ Kaaak Jemmy… mengapa tadi Kak Jemmy tak kunjung datang?  
Rachel sangat takut ”, ucap Rachel sambil memeluk Jemmy.
“ Rachel pikir tadi Kak Jemmy menghilang.. Rachel takut sendirian. “, seru Rachel yang menangis dan mengeratkan pelukanya ke Jemmy.




“  Maafkan Kak Jemmy. ”, ucap Jemmy menenangkan Rachel.
“ Kak Jemmy kenapa? Mengapa tubuh Kak Jemmy penuh luka? “, tanya Rachel.
“ Kak Jemmy tidak apa-apa kok. “, jawab Jemmy sambil menahan sakit.
Rachel tidak mau Kak Jemmy menghilang dan pergi”, ucap Rachel
“ Rachel,, dengarkan Kak Jemmy.
Kak Jemmy tidak akan meninggalkan Rachel lagi.  Kak Jemmy akan selalu ada di samping Rachel. Jadi Rachel tidak perlu lagi takut sendiri. Kak Jemmy berjanji ”, janji Jemmy sambil nggulurkan jari kelingkingnya.
Rachel menyambut jari kelingik Jemmy, “ Tetapi kening Kak Jemmy berdarah.. ”, ucap Rachel yang menangis kembali.
“ Sudah-sudah, Rachel jangan menangis, Rachel akan terlihat cantik jika berhenti menangis.. Kak Jemmy tidak apa-apa kok. Sekarang kita cepat pulang”, ujar Jemmy sambil menggenggam tangan Rachel erat, lalu berjalan bersama………



Dinginnya angin yang berhembus menyadarkan kembali Rachel dari lamunan masa kecilnya bersama Jemmy. Sambil menggenggam foto Jemmy dalam peluknya, Rachel menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur.

“Kak Jemmy akan Selalu ada di samping Rachel, dan tak akan meninggalkan Rachel lagi”
“ Tapi sekarang ketika Rachel sendiri,
ketika Rachel takut, ketika Rachel butuh, Kak Jemmy tak ada di samping Rachel”
“ Rachel tidak bisa memeluk Kak Jemmy”
“ Rachel tidak bisa menangis di pelukan Kak Jemmy”

“ Kini Rachel sendiri.. Rachel kesepian..”
“ Rachel kangen dengan pelukan Kak Jemmy”
“ Rachel kangen dengan suara lembut Kak Jemmy”
“ Rachel Kangen akan wangi tubuh kak Jemmy”

“ Akan kah Rachel selalu sepi?”
“ Apakah Kak Jemmy masih hidup?”
“ Dimana Kak Jemmy sekarang?? “
“ Rachel butuh Kak Jemmy”, ucap Rachel lirih dan membawanya dalam tidur yang lelap…

Rabu, 07 Maret 2012

Diary of Nightmare: prologue


by  Ez


 “ Aku tak mau sendiri...
Jangan seret aku dalam KEGELAPAN..!!

Tolong aku. . .!!!
Aku belum siap menghadapi KEMATIAN ..!!

Dia. .
Salahkan IBLIS dalam hatiku yang menjerumuskanku dalam HITAM pekat..
Salahkan diaa. . .!!!

Tidakk .  . .!!!
Aku tidak mau MATI, , , !!
Aku masih punya waktu.. ya, aku punya itu, ,
Kembalikan separuh waktuku, ,
Aku mohon, ,
Kembalikan aku ke jalan Tuhanku, , , !!!