Pages

Tampilkan postingan dengan label fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fantasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2014

LOVE TRAP

1, 2, 3
kau gadis cantik menarik
4, 5, 6
semakin hari semakin tenggelam dalam pesonamu

3, 2, 1
sekejap waktu pikiran ku kacau
6, 5, 4
apa yang terjadi dengan ku? dengan dirimu?

senyum memikat, rona bahagia
pada waktu yang sama kau membuat ku bimbang
ayu paras menjerat, ucap manis menghipnotis
kau menuntut, merajuk, kau mengkungkung ku

kau melodi yang mengalun, tak bisa dilupakan
kau hadirkan fantasi romantika dalam kotak kaca
menghilanglah akal sehat ku, melemahlah raga ku
aku terperangkap, kutukan? mantra?

kini aku tak akan kembali dan memulai
menyudahi canda tawa
menghilang dari bayang
membuka pintu 1, 2, 3
melangkah setapak 4, 5, 6
memasuki ilusi tanpa henti




Rabu, 27 Februari 2013

Diary of Nightmare: Ice Princess





Chapter two: Ice Princess

Di pagi yang cerah, Rachel bersiap pergi sekolah.
“ Pak Dim, semuanya sudah siap pak? Kita berangkat ke sekolah sekarang. ” Kata Rachel
“ Siap Non” ujar Pak Diman. Pak Diman adalah supir pribadi milik Rachel yang selalu mengantarnya kemanapun ia inginkan. Di dalam perjalanan menuju sekolah..
“ Pak Dim, Rachel mau cerita sesuatu ”, kata Rachel kepada Pak Diman yang sedang menyetir.

“ Cerita tentang apa Non? “, tanya Pak Diman.
“ Tadi malam, Rachel memimpikan Kak Jemmy. Di dalam mimpi Rachel, Rachel bersama Kak Jemmy sedang menunggu matahari terbenam di bukit belakang Villa. Kami berdua merebahkan tubuh, menatap langit. Rachel menatap wajah Kak Jemmy, dia memejamkan mata sambil tersenyum. Ketika Rachel menayakan kabar dan alasanya meninggalkan Rachel, Kak Jemmy memandangi Rachel dalam sambil membelai rambut Rachel. Saat Rachel ingin memeluk tubuh Kak Jemmy, tiba-tiba ia menghilang, meninggalkan Rachel lagu, lalu Rachel terbangun “, Rachel membendung air matanya.
“ Bagaimana kabar Kak Jemmy sekarang? Apakah ia baik-baik saja? “, tanya Rachel.
“ Den Jemmy pasti baik-baik saja “, jawab Pak Diman.
“ Non Rachel sudah tujuh tahun tidak pernah lagi mengunjungi villa semenjak Den Jemmy pergi. Apakah Non Rachel tidak mau mengunjungi untuk sesekali? ”, tanya Pak Diman.
“ Mengunjungi Villa, membuat Rachel selalu teringat Kak Jemmy. Mungkin belum saatnya Rachel mengunjungi Villa ”, jawab Rachel
 “ Pak Dim, Apakah pohon besar di bukit belakang Villa masih ada ? “, tanya Rachel.
“ Tentu Non. Pohon besar di bukit belakang Villa masih tetap tumbuh sama seperti tujuh tahun lalu. ”, jawab Pak Diman.
“ Syukurlah, Rachel juga rindu bermain di bukit belakang Villa”, ucap Rachel.

“ Non, kita sudah sampai di sekolah”, kata Pak Diman.
“ Pak Diman, nanti jemput Rachel seperti biasanya ya Pak”, kata Rachel.
“ Baiklah Non, nanti Pak Diman jemput pada pukul 16.30 ”, jawab Pak Diman.
“ Baiklah, Terimakasih ya Pak “ ucap Rachel kepada Pak Diman yang dibalas dengan anggukan kepala Pak Diman di Dalam mobil yang melaju keluar area sekolah.

 Rachel bergegas menuju ke ruang loker. ketika Rachel berjalan menuju ruang loker, ia melewati lapangan basket dan melihat Gio dan teman-temanya sedang bemain basket.
“ Hai Rachel, bagaimana kabarmu hari ini, cantik? “, Tanya Gio seraya merayu.
“ Kabarku baik, dan aku yakin hari ini semua akan berjalan sesuai dengan baik.
Apakah kau sudah mengerjakan tugas Geometri? Bukankah kau harus menghadiri kelasnya saat ini? ”,  Tanya  Rachel
 “ Astaga !! kau benar.. guru Killer itu. Aku harus menghadiri kelasnya sekarang juga”, jawab Gio. Dengan segera Gio menghentikan permain dan merapikan dirinya lalu ia menghampiri Rachel.
“ Oh ya Chel,  sebelum kau ke kelas jangan lupa periksa lokermu hari ini. Aku mempunyai sesuatu di lokermu… Bye-bye Rachel ” ucap Gio sambil berlari dengan terburu-buru menuju kelas.

Di ruang loker, Rachel menemukan setangkai mawar merah cantik dengan sepucuk surat di dalam lokernya.


“ A beauty flower for beautiful Girl…  From your admirer “
Gio…


Apatis, itulah yang tersirat dari ekspresi Rachel saat melihat bunga dan membaca surat Gio di lokernya. Sebesar apapun usaha Gio untuk lakukan, tidak akan dapat meluluhkan dinginya hati  Rachel.
“ Lelaki bodoh, dia pikir setangkai bunga dapat meluluhkan hatiku?! ” ucap Rachel, lalu membuang bunga mawar dan merobek surat kecil dari Gio.

Di akhir jam pelajaran.. “ oke anak-anak, pelajaran cukup sampai di sini.. sekarang saya akan memberikan tugas kelompok untuk kalian semua… tugas paper kali ini berkaitan dengan peradaban manusia prasejarah. Deadline tugas 1 minggu, di kirimkan ke email saya. Sekian pertemuan kita hari ini “ papar Bu Anggie di depan kelas. Kelas pun berakhir.
“ Hai Rachel.. apakah kau mau mengerjakan tugas bersama ku? “, kata Nina menawarkan.
“ Maaf, aku bisa mengerjakan tugas ini sendiri. Aku tidak membutuhkan pertolongan orang lain “, jawab Rachel. 
“ Ohh, begitu… “, ucap nina dengan kecewa.
“ Aku harus segera ke suatu tempat, bisakah kau tidak menutupi jalanku? “, kata Rachel.
“ maafkan aku ”, sesaal Nina.
Bel berbunyi, jam pelajaran telah selesai. semua siswa merapikan buku dan alat tulis mereka lalu bersiap pulang. Belum sempat Rachel keluar dari kelas, secara tiba-tiba Gio menghadangnya,
“ Chel, kamu sudah melihat lokermu?” tanya Gio
“ Ahh kau mengagetkanku.. Sudah, memangnya kenapa?” jawab Rachel terkejut.
“ Apakah kau menemukan sesuatu?” tanya Gio tersipu.
“ Hmm… aku menemukan setangkai bunga mawar merah yang sangat indah di lokerku. Apakah itu dari mu? ”, tanya Rachel manis
“ Ya, Apakah kau menyukainya?” tanya Gio.
“ Tentu, aku sangat menyukainya. Aku akan menyimpan mawar indah itu ”, jawab Rachel yang menggetarkan hati Gio.
“  Aku senang jika kau menyukai mawar itu. Hmm maukah kamu pulang bersama ku?” sahut Gio
“ Oh Gio, terima kasih atas tawaranya tetapi maaf, Pak Diman telah menunggu ku”. Jawab Rachel
“ Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa mu. Hati-hati Rachel ” ucap Gio kecewa.
“  Terima kasih Gio. Di lain waktu, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk berdua bersama mu”, jawab Rachel dengan kerlingan mata yang menggoda.
“ Baiklah aku akan menunggumu.. bye Rachel.. “, ujar Gio.
Bukanlah hal yang sulit bagi Rachel menolak rayuan dan tawaran Gio.  Rachel hanya berpura-pura baik di depan Gio hanya demi citranya, walaupun sesungguhnya Rachel sangat tidak menyukai Gio.
“ Lelaki tak berguna. Hanya membuang waktuku saja”, ucap Rachel kesal dalam hati.


Di lapangan, Gio menghampiri Drew dan Frans yang sedang bermain basket.
“ Hei bro, bagaimana usahamu hari ini? Berhasilkah? “, tanya Frans.
“ Hahaha, dari raut wajah lu telah terlihat sebuah kekalahan.. “ selak Drew. “ Apa yang ngebuat lu sangat patang menyerah untuk ngedapetin si Ice Princess? Hah? “
“ Apa loe bilang? Kekalahan?! Gio tidak akan pernah kalah, suatu saat nanti Rachel akan bertekuk lutut dihadapan gue, semua usaha gue akan terbayar “, jawab Gio.
well, gue tunggu apakah Casanova Prince bisa meluluhkan hati Ice Princess. Atau akankah teman kita kali ini akan gagal meraih obsesinya?? Haha “, tantang Drew.
“ Berani taruhan apa lu kalo gue berhasil ngedapetin Rachel?? “, tantang Gio balik.
“ Oke kalo lu berhasil ngedapetin dia seperti cewek-cewek yang berhasil lu taklukin sebelumnya, gue bakal ngetraktir dan jadi supir lu berdua selama sebulan. Bagaimana Tuan Muda, Deal..?! “, jawab Drew.
“ Oke gue bakal buktiin ke lu berdua, dan lu Drew siap-siap aja lu jadi supir kita berdua minggu depan.. “, ujar Gio percaya diri.
“ Sudah-sudah, mari kita sudahi perdebatan di sore hari ini.. bagaimana jika kalian berdua gue traktir hangout malem ini, gimana?! Gue bosan mendengar kalian berdua berdebat “, kata Frans menengahi.
“ Oke cepet kita pergi hangout.. udah suntuk banget gue “, ucap Gio.
“ Weits bro, lu gak suntuk gara-gara gue kan?? Hahaha “, kata Drew.
“ Oke sekarang kita naik mobil gue, suruh supir-supr kalian buat mengambil mobil klian masing-masing di parkiran “, ujar Frans.

Rachel bergegas menuju lobby sekolah, di koridor sekolah secara tak sengaja ia bertabrakan dengan Nina. Nina terjatuh, buku-buku yang ia bawa berserakan di sekelilingnya.
“ Hei kau ! Sudah pakai kacamata, masih saja menabrak orang sembarangan ! ” teriak Rachel pada Nina
“ Ma…maafkan aku”, ucap Nina tertunduk
“ Cepatkau bereskan semua buku-buku mu dari jalanku..! ” perintah Rachel.
Secara mengejutkan, Sisyl yang memperhatikan Rachel dan Nina dari kejauhan datang.
“ Astaga Nina, apakah  Rachel meyakiti hatimu? ” kata Sisyl sambil membatu Nina membereskan buku-bukunya.
“ Aku tidak apa-apa kok Syl”, jawab Nina.
“ Benarkah?! Kalau begitu, cepat pergi dari sini”, ucap Sisyl sambil mengusir Nina.
“ Tapi, aku tidak bisa melihat dengan jelas tapa kacamataku. Aku tidak bisa menemukanya “, kata Nina
“ kacamata mu?! Oh itu dia.. “
Sisyl menemukan kacamata Nina, dan menginjaknya dengan sengaja, “ Ups, maaf.. aku telah menginjak kacamatamu “
“ Cepat pergi sekarang juga..!! “, teriak Sisyl.
Nina pergi dengan menahan tangis akibat perlakuan Sisyl kepadanya.
“ Halo, putri yang bermuka dua”, sapa Sisyl
“ Mau apa kau dengan ku? Aku tak punya waktu berurusan dengan orang seperti mu”, jawab Rachel ketus.
“ Apakah sekarang kamu sedang sibuk membunuh rasa sepimu  tuan putrid yang pintar merayu?”, tanya Sisyl menyindir.
“  Apa maksud ucapanmu..!! ”, cerca Rachel.
“ Tuan putri yang manis dan baik hati, berhentilah kau mengoda pada Gio”, kata Sisyl.
“ Betapa lucunya dirimu Sisyl. Gio yang selalu merayuku selama ini”, jawab Rachel.
“ Hahahaha, apakah kau berharap Gio untuk merayu mu? Betapa menyedihkanya dirimu”, ucap Sisyl sambil tertawa kecil.
“ Apa yang kau tertawakan?! Lagi pula apakah Gio salah memilih aku yang jauh lebih baik dari mu?” serang Rachel.
“ Apa yang katakana tadi?! Apa maksudmu kau lebih baik dariku?!”, Ucap Sisyl tak terima.
“ Sudahlah, waktuku terbuang percuma untuk berdebat dengan orang yang tak sepadan dengan ku. Aku harus pergi mengejar sesuatu yang lebih berarti dari pada harus berdebat dengan orang seperti mu”, seru Rachel seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Sisyl dan gerombolanya.
“ Tutup mulutmu Rachel!! Aku tak terima dengan semua ucapanmu! Akan kubalas kau suatu saat nanti!”, teriak Sisyl.
“ Akan ku tunggu saat itu, aku takan pernah takut padamu!” jawab Rachel dari dalam mobilnya.

Setelah kejadian diantara Sisyl dan Rachel di sore hari itu, terjadilah sebuah perang dingin diantara mereka berdua. Kedua orang yang mempunyai pengaruh di lingkungan sekolanya ini telah mengimbaskan konflik mereka ke semua siswa..
Menyebar bagaikan partikel debu yang tertiup angin.

Kamis, 08 November 2012

Awal dan Akhir Hanyalah Ilusi



Hanya dapat membayangkan dalam lamunan imaji
Luka yang samar-samar mulai terasa dan air mata enggan menitik
Mengapa kau pergi begitu cepat begitu tiba-tiba

Aku tahu luka ini takan sembuh
Melihat kau menghilang, lenyap, hanya membuatnya semakin parah
Dari sebuah perpisahan tanpa selamat tinggal

Pada akhirnya semua hitam, 
tangisan ini  tak terkendali
Yang bisa ku ingat hanyalah senyum  dan hangat tubuhmu
Aku berusaha menggenggam,  memeluk  dalam ketidakberdayaan
Sampai akhirnya kusadari
Awal dan akhir hanyalah ilusi . . . .



Inspired by IU - Story Only I Didn't Know

foto

Jumat, 22 Juni 2012

Diary of nightmare: Malam, Kenangan.... Sepi


Chapter one: Malam, Kenangan... Sepi

“ Sepi,,, mengapa hanya perasan itu yang selalu ku rasakan.
Uhh aku bosan sendiri. Hanya bisa menatap orang-orang yang ku sayang dalam foto.
Mama, Papa, sudah beberapa tahun tak kunjung pulang. Kak Jemmy yang berjanji menemaniku, sampai saat ini meninggalkanku dan tak pernah kembali.
Apakah aku akan selalu sendiri?   ” ucap Rachel.

Matahari mulai kembali keperaduanya dan langit pun mulai berwarna jingga. Rachel duduk termanggu menatap senja yang perlahan menggelap. Beranjak dari balkon kamar, Rachel membuka album foto, mencoba mengingat kembali masa-masa indah bersama keluaranya yang ia rindukan.

“ Non Rachel, makan malam sudah siap non” seru Bi Asih dari luar kamar
“ Iya Bi, tunggu sebentar. Rachel turun sebentar lagi” jawab Rachel.
“ Midnite, ayo kita turun. Bi Asih sudah menunggu kita di ruang makan ” kata Rachel pada Midnite.
Rachel keluar dari kamarnya dan segera menuju ke ruang makan,
“ Bibi sudah siapkan makanan kesukaan Non Rachel ”, kata Bi Asih.
“ Wah lezatnya… ”, sahut Rachel.
“ Ayo Non cepat di makan, nanti keburu dingin”,  Bi Asih sambil menyajikan makanan.
“ Hmmm… sup asparagus buatan Bibi memang yang paling lezat”, puji Rachel.
“ Terimakasih Non “, Bi Asih tersenyum.

“ Bi, apakah rumah ini terlalu besar untuk kita huni? Ataukah rumah ini terlalu sepi? Terkadang Rachel merasa hidup sendiri ”, keluh Rachel.
“ Non Rachel jangan merasa begitu “, jawab Bi Asih
“ Apakah Mama dan Papa melupakan Rachel di sini. Apakah mereka tak tahu bahwa Rachel selalu merindukan mereka?” tanya Rachel.
“ Non Rachel jangan berprasangka seperti itu. Bersabarlah Non, suatu saat pasti orang tua Non Rachel pasti akan pulang”, ujar Bi Asih sambil menuangkan secangkir teh untuk Rachel.
“ Rachel merasa mungkin Bi Asih lebih menyayangi Rachel di bandingkan dengan Mama “, ucap Rachel.
“ Non Rachel tidak boleh berkata begitu. Bibi sudah merawat Non bagaikan anak Bibi sendiri. Walaupun begitu, orangtua Non Rachel pasti juga menyayangi Non sama seperti Bibi. Sudah-sudah Non Rachel jangan bersedih lagi ”, hibur Bi Asih.
“Terimakasih Bi, teh bunga krisan buatan Bibi selalu bisa membuat Rachel merasa tenang”, ucap Rachel.

Ketika tengah malam datang. Rachel yang tengah bersiap untuk tidur, membuka lebar pintu kamarnya dan berhembus angin malam menyempurnakan keheningan malam. Ia  memandangi langit yang begitu kelam, tak ada satupun bintang yang bersinar malam itu. Hanya bulan yang temaram di telan gelap. Dalam benaknya, terputar kembali masa-masa Rachel bersama Jemmy, sepuluh tahun yang lalu………

“ Dooor..!!! “ Rachel mengejutkan Jemmy yang sedang duduk, membaca bukunya di bawah pohon besar.
“ Kak Jemmy, kita main petak umpet yuk… “, ajak Rachel.
“ Bermain petak umpet? “, tanya Jemmy heran.
“ Iya, kita bermain petak umpet. Bukit ini sangat luas. Pasti sangay mengasyikan jika kita permain petak umpet. “, kata Rachel.
“ Baiklah, tetapi siapa yang akan berhitung? Rachel atau Kak Jemmy? “, Tanya Jemmmy.
“  Rachel yang akan berhitung hingga sepuluh. Kak Jemmy harus bersembunyi, lalu Rachel akan mencari Kak Jemmy”, seru Rachel antusias.
“ Baiklah ” Jemmy tersenyum sambil mencubit pipi Rachel.
“ Oke, Rachel akan mulai berhitung.
Satu… dua… tiga… “

Saat Rachel mulai berhitung , Jemmy segera mencari tempat bersembunyi. Setelah berlari beberapa meter, ia menemukan rerimbunan ilalang. Jimmy merunduk dan merangkak masuk ke dalam rerimbunan ilalang.

 “ Kak Jemmy sudah bersembunyi... Ayo cari Kak Jemmy..!! “, teriak Jemmy pada Rachel.  

“ Delapan… Sembilan… sepuluh… Rachel sudah selesai menghitung. Sekarang Rachel akan mencari Kak Jemmy”, seru Rachel.
“ Kak Jemmy, dimana ya kak Jemmy”. Rachel terus mencari Jemmy.

Melihat Rachel berjalan semakin dekat menuju ke tempat persembunyianya, ia mundur perlahan sambil tetap memperhatikan Rchel dari celah rerimbunan ilalang, masuk lebih dalam. Jemmy yang tak sadar bahwa terdapat lembah curam di belakangnya, tiba-tiba terjerembab, ia tertimpa bebatuan yang jatuh dari atas, kepalanya terbentur batu yang membuatnya pingsan, tak sadarkan diri.

“ Kak Jemmy… dimana kak Jemmy…? “, teriak Rachel sambil mencari Jemmy. Ia terus mencari Jemmy, sambai akhirnya lelah dan menyerah.
“ Kak Jemmy. Rachel sudah lelah mencari. Sekarang Kak Jemmy boleh keluar. Kita sudahi permainan ini. Rachel lelah ”, ucap Rachel kelelahan.
“ Kak Jemmy, Kak Jemmy ayo keluar dari persembunyian Kakak ”, seru Rachel memanggil Jemmy untuk keluar dari tempat persembunyianya.

Jemmy tak juga muncul. Rachel mencari Jemmy yang ia kira masih bersembunyi. Ia terus mencari sambil tetap memanggil-manggil namanya yang tak kunjung muncul.

“ Kak Jemmy, Kak Jemmy dimana…? ayo cepat keluar. Rachel sudah lelah mencari Kak Jemmy”, ucap Rachel kelelahan. Tiba-tiba rintik hujan turun dan semakin  deras membasahi tubuh Rachel.
“ Kak Jemmy, ayo cepat keluar Kak, hujan mulai turun”, seru Rachel sambil berlari mencari tempat berteduh.
 Hujan turun semakin deras, langit pun menghitam, dan petir bersaut-sautan. Rachel berteduh di pohon besar memeluk buku Jemmy. Seluruh tubuhnya basah, badanya menggigil kedinginan, Rachel menangis ketakutan sambil tetap menunggu Jemmy.
“ Kak Jemmy dimana? Rachel takut, Rachel kedinginan.. cepat ke sini Kaak… ”, ucap Rachel menangis.

Beberapa jam kemudian, hujan mereda. Di bawah pohon besar, Rachel masih menangis, menggenggam buku Jemmy dalam pelukanya dengan tubuh yang basah. Terlihat samar dari kejauhan, Jemmy dengan pakaian yang basah, kotor dan tubuhnya berlumuran luka, Sambil memegang keningnya yang berdarah Jemmy berjalan dengan pincang menuju Rachel. Rachel yang melihat Jemmy dari kejauhan langsung berlari menuju Jemmy dan memeluknya.

“ Kaaak Jemmy… mengapa tadi Kak Jemmy tak kunjung datang?  
Rachel sangat takut ”, ucap Rachel sambil memeluk Jemmy.
“ Rachel pikir tadi Kak Jemmy menghilang.. Rachel takut sendirian. “, seru Rachel yang menangis dan mengeratkan pelukanya ke Jemmy.




“  Maafkan Kak Jemmy. ”, ucap Jemmy menenangkan Rachel.
“ Kak Jemmy kenapa? Mengapa tubuh Kak Jemmy penuh luka? “, tanya Rachel.
“ Kak Jemmy tidak apa-apa kok. “, jawab Jemmy sambil menahan sakit.
Rachel tidak mau Kak Jemmy menghilang dan pergi”, ucap Rachel
“ Rachel,, dengarkan Kak Jemmy.
Kak Jemmy tidak akan meninggalkan Rachel lagi.  Kak Jemmy akan selalu ada di samping Rachel. Jadi Rachel tidak perlu lagi takut sendiri. Kak Jemmy berjanji ”, janji Jemmy sambil nggulurkan jari kelingkingnya.
Rachel menyambut jari kelingik Jemmy, “ Tetapi kening Kak Jemmy berdarah.. ”, ucap Rachel yang menangis kembali.
“ Sudah-sudah, Rachel jangan menangis, Rachel akan terlihat cantik jika berhenti menangis.. Kak Jemmy tidak apa-apa kok. Sekarang kita cepat pulang”, ujar Jemmy sambil menggenggam tangan Rachel erat, lalu berjalan bersama………



Dinginnya angin yang berhembus menyadarkan kembali Rachel dari lamunan masa kecilnya bersama Jemmy. Sambil menggenggam foto Jemmy dalam peluknya, Rachel menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur.

“Kak Jemmy akan Selalu ada di samping Rachel, dan tak akan meninggalkan Rachel lagi”
“ Tapi sekarang ketika Rachel sendiri,
ketika Rachel takut, ketika Rachel butuh, Kak Jemmy tak ada di samping Rachel”
“ Rachel tidak bisa memeluk Kak Jemmy”
“ Rachel tidak bisa menangis di pelukan Kak Jemmy”

“ Kini Rachel sendiri.. Rachel kesepian..”
“ Rachel kangen dengan pelukan Kak Jemmy”
“ Rachel kangen dengan suara lembut Kak Jemmy”
“ Rachel Kangen akan wangi tubuh kak Jemmy”

“ Akan kah Rachel selalu sepi?”
“ Apakah Kak Jemmy masih hidup?”
“ Dimana Kak Jemmy sekarang?? “
“ Rachel butuh Kak Jemmy”, ucap Rachel lirih dan membawanya dalam tidur yang lelap…

Rabu, 07 Maret 2012

Diary of Nightmare: prologue


by  Ez


 “ Aku tak mau sendiri...
Jangan seret aku dalam KEGELAPAN..!!

Tolong aku. . .!!!
Aku belum siap menghadapi KEMATIAN ..!!

Dia. .
Salahkan IBLIS dalam hatiku yang menjerumuskanku dalam HITAM pekat..
Salahkan diaa. . .!!!

Tidakk .  . .!!!
Aku tidak mau MATI, , , !!
Aku masih punya waktu.. ya, aku punya itu, ,
Kembalikan separuh waktuku, ,
Aku mohon, ,
Kembalikan aku ke jalan Tuhanku, , , !!! 

Sabtu, 03 Maret 2012

Selai Kacang yang Terasa Hambar

Selai Kacang Yang Terasa Hambar
oleh  Ez

 Tara adalah cowok pendiam dan cenderung introvert. Ia baru saja naik ke kelas IX  yang berarti kelas paling senior. Dibandingkan dengan teman-tamanya yang telah merasakan apa itu jatuh cinta. Tara sampai saat ini masih belum paham betul akan apa itu cinta dan bagaimana rasa cinta yang seharusnya telah ia rasakan sebagai efek samping dari masa pubertas. Mungkin saja Cupid terlambat menyemaikan perasaan cinta di hatinya.

Kelas baru, teman baru. Seperti biasanya, hari pertama masuk adalah hari santai dimana kegiatan belajar mengajar belum efektif berjalan sehingga banyak siswa yang ‘berhamburan’ dimana-mana. Tara berjalan menuju kantin untuk membeli minuman dingin karna cuaca saat itu sangat panas ditambah keadaan kantin yang ramai membuat suhu udara bagaikan di padang pasir. Ia melihat Teh botol dingin yang hanya tinggal satu di lemari es,ketika ia ingin membelinya,"mbak, Teh botolnya mbak". Ada orang cewek yang berbicara sama dengan apa yang ia katakan dalam waktu yang sama. Secara otomatis mbak penjaga kantin bingung dan agak kaget. Begitu pula dengan mereka berdua.
"Udah jangan berebut, teh botolnya tinggal satu nih.
Mendingan kalian berdua suit, siapa yang menang boleh beli teh botolnya". Saran mbak penjaga kantin.
"Gak usah suit, gua ngalah. Elu keliatan lagi haus banget.
Mbak teh botolnya buat dia aja". Ujar Tara.
"eh makasih ya! Tau aja gue emang lagi haus banget.
Makasih banyak ya, elu beli air mineral gelas aja.
Tuh mulut lu udah kering.. Da..dah". Ucap cewek itu.
Dengan menundukan wajahnya dan menatap sayu air mineral gelas di genggamanya, Tara telah membiarkan cewek itu membeli teh botol yang ia idam-idamkan.

  Bel berbunyi, seluruh siswa masuk ke kelas barunya masing-masing untuk bertatap muka dengan walikelas yang baru. Tara duduk sebangku dengan Dion,teman sekelasnya. Ketika Tara duduk dibangkunya, ia terkejut ternyata seseorang yang duduk disebelahnya adalah cewek yang ia temui di kantin tadi.


"eh elu 'cowok air mineral'.. Elu di kelas ini juga.
Wah..  ga nyangka gue sekelas dengan 'cowok air mineral'", Celetuk si cewek.
"eh ketemu lagi kita,he..he..he", balas tara dengan ekspresi yang datar dan tawa sekenanya.
"Nama gua Icha.. gua dulu anak kelas 8.5. Nama elu siapa?",kata Icha memperkenalkan diri.
" Gue Tara, anak 8.4",jawab Tara.
" Loh berarti dulu kita tetanggaan dong?!
Kok gua ga pernah ngeliat elu yah dulu?" seru Icha
." gua jarang keluar kelas. Jadi banyak orang yang engga kenal gue. Gue bukan anak yang populer" jawab Tara merendahkan diri.
Akhirnya walikelas mereka datang dan semua murid menyimak apa yang disampaikan oleh walikelas mereka yang baru.

 Semakin hari mereka semakin akrab. Mereka sering ngobrol dan shering. Tak jarang Icha curhat kepada Tara, karna ia mengganggap bahwa Tara adalah pendengar yang baik. Icha yang selalu curhat pada Tara membuat mereka berdua semakin dekat tapi terkadang Icha masih sering meledeknya Tara 'cowok air mineral’. Semenjak berteman dengan Icha, Tara mulai menjadi sosok yang terbuka dan mereka sering menghabiskan waktu bersama. Saat jam istirahat,  di kantin sekolah, mereka menghabiskan waktu makan siang bersama.
"Cha, gue perhatiin kayaknya elu suka banget ya sama roti dan selai kacang?" tanya Tara penasaran.
" Iya, dari kecil gue suka banget sama selai kacang " jawabnya.
"eh itu di bibir lu ada selai kacangyan ”, seru Tara sambil member tissue ke Icha.
“ makasih “, ucap Icha sambil tersenyum manis.
Entah mengapa ketika dia memandang wajah Icha yang cantik, hatinya berdebar-debar dengan cepat. Suhu badanya naik dan matanya terpaku pada kecantikan Icha. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh tepukan tangan Icha di tangannya,
" Tar, kenapa benggong?! ".
" Eh.. maaf. Gak kenapa-napa kok.. hehehe", jawab Tara dengan terkejut.

 Entah mengapa kejadian tadi dikantin terus terbayang-bayang setiap saat di pikiran Tara. Binar matanya, simpul manis senyumnya, indah rambutnya, semuanya tergambar sempurna dibenak Tara. Tara bertanya-tanya ada apa dengan dirinya.
Kesokan hari semuanya berjalan seperti biasa dan. Tetapi megapa dari 3 hari yang lalu sampai sekarang Icha tidak jalan bersama, mengobrol atau ber'sms'an denganya? Dengan cuek Tara berfikir mungkin saat ini Icha sedang tidak mempunyai masalah atau bahan obrolan denganya. Saat Tara beranjak tidur, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dengan mata yang melek segan merem tak mau Tara mengangkat telphonya.
"Halo? Ini siapa?" tanya Tara dengan mata sayup.
"Tar... ini gue Icha...hiks hiks" jawab Icha tersedu-sedu. Terkejut Tara mendengar isak tangis Icha,
"Loh Cha lu kenapa? Kok tiba-tiba nangis begitu?".
"Tar,, gue diputusin pacar gue..hiks..hiks", jawab Icha.
" Udah, cup..cup..cup jangan nangis lagi, kan ada gue. ", sahut Tara mencoba menenangkan Icha.
" Tapi gue sayang banget sama pacar gue, kenapa dia nyakitin dan mutusin gue?", gerutu Icha.
"Udah ga usah dipikirin, itu berarti pacar lu bukan yang terbaik untuk lu..
Sekarang lu berenti nangis, mending lu tidur, udah malem. Nanti cantiknya hilang looh ", jawab Tara.
“ hehe.. yaudah Tar, makasih banyak ya udah mau ngangkat telphon gue tengah malem gini.
Selamet malem ya Tara..“ jawab Icha.
Sejak kejadian itu Icha merasa Tara bukan sekedar pendengar yang baik, tetapi juga ia dapat menenangkan hatinya yang sedang gundah.

          Mereka semakin dekat. Bagi Icha Tara lebih dari sahabat spesial. Mereka sering bercanda dan jalan bersama kesuatu tempat. Saat Tara sedang menikmati makanan yang ia pesan di kantin, sendiri.
 Icha menghampirinya lalu duduk dan membuka kotak bekal yang selalu ia bawa dari rumah.
"Tar mau brownies kacang mete buatan gua ga?
Dijamin enak loh", seru Icha.
" Bener nih enak? “, ledek Tara.
" Ya enak lah, ini brownies special tau “, sahut Icha agak kesal.
" Oke gue coba browniesnya tapi kalo ga enak, awas ya ", canda Tara.
" Eh sebelum itu, gue pengen ngomong sesuatu sama elu" ucap Icha dengan nada serius.
" Ngomong aja ga usah pake ijin segala", sahut tara sambil melahap brownies buatan Icha.
"Gini Tar gue ngerasa kok elu berubah lebih....",belum selesai Icha berbicara.
"Berubah gimana? Emangnya gue Power Ranger?! ", sela Tara.
" To the point aja deh,, gua suka elu" sahut tegas Icha yang tersipu malu.
“ Uhuk.. uhuk.. “ Sangat terkejut Tara mendengar perkataan Icha sampai-sampai brownies di dalam mulutnya tidak bisa tertelan dan membuatnya tersedak. Ketika Tara masih dalam keadaan terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa, Icha menutup mulutnya.
 "Ssst.. ga usah dijawab sekarang. Gue ngerti kok", ucap Icha singkat lalu dengan cepat Icha mengecup pipi Tara.
Muka Tara merah merona, bibirnya kelu tak dapat berkata-kata.
"Udah ga usah melongo gitu, kunyah tu brownies di mulut lu.
Gue ke kelas dulu ada urusan sama temen gue", ucap Icha lalu beranjak pergi menuju kelas.

Di dalam benak Tara muncul pertanyaan “ Apa benar Icha suka sama gue??? “ . Sedangkan mantan-mantan Icha terdahulu tergolong cowok-cowok populer. “ Tapi kan gue bukan cowok populer?? “ . Lalu ia mengambil kesimpulan dan berkata dengan cuek,
" Ah Icha mungkin hanya bercanda. Dia cuma mau meledek gue aja. Dasar gadis selai kacang".

           Keesokan harinya Icha membawa dua buah kotak bekal, satu untuk Tara dan satunya untuk dirinya sendiri.
"Weh tumben-tumbenan ni bawain gua bekel, ada angin apaan nih?", ujar Tara.
" Emang gue salah bawain elu bekal? Kalo ga mau yaudah buat Pak Ujo aja di pos satpam!", jawab Icha dengan nada serius.
“ Dasar 'gadis selai kacang', gue kan cuma bercanda. Makasi yah, elu emang baik banget deh", ujar Tara.

Mereka berdua menghabiskan waktu istirahat dikantin bersama-sama. Setiap istirahat mereka berdua selalu bersama dan tak lupa juga Icha selalu membuatkan bekal untuk Tara. Kebiasaan ini membuat para Bigos (Biang Gosip) sekolah membicarakan hubungan spesial mereka berdua. Dengan cepat gosip-gosip tentang mereka berdua menyebar seantero sekolah hingga gosip ini pun sampai pada telinga para Guru. Ketika jam pelajaran BK (Bimbingan Konseling), Bu Yuny membahas tentang masalah percintaan di kalangan remaja. Secara otomatis teman-teman Tara dan Icha langsung menyindir mereka.
"Bu, dikelas ini ada yang baru jadian loh", seru Lidya teman sebangku Icha.
"Cie..cie..cie", seru semua murid dikelas.
“ Sstt Ldya..!! “, Icha membungkam mulut Lidya sambil mencubitnya.

"Ada apaan si Dio? Emang yang teman-teman bicarakan siapa?? ", tanya Tara kepada Dion dengan tampang blo'on.
"Halah lu Tar pake majang muka bego, gue uda tau kale. Ga perlu pura-pura, itu wajar kok", jawab Dion dengan nada meledek.
"Gua ga ngerti deh maksud lu Dio?", tanya Tara bingung.
"Ah elu yaudah kalo ga ngerti diem aja dah", sahut Dion.


Sudah satu bulan setelah Icha menyatakan perasaanya pada Tara, tetapi mengapa Tara tidak membalas pernyataan cinta kepadanya. Icha berfikir apakah Tara tidak mencintainya. Merasa cintanya bertepuk sebelah tangan semenjak itu Icha tidak lagi membawakan Tara bekal.
"Cha kotak bekal buat gue mana?", tanya Tara.
"Sekarang gue cuma bawa satu kotak bekal", jawab Icha.
"Hemm Yaudah kalo gitu", jawab Tara cuek lalu pergi memesan mie pangsit kesukaanya.

Satu hari penuh Icha memasang muka cemberutnya pada Tara. Dan keesokan harinya ketika Tara sedang melihat-lihat buku di toko buku favoritnya. Tanpa sengaja ia melihat Icha sedang makan bersama lelaki lain di sebuah foodcourt tepat di depan toko buku itu. Entah mengapa perasaan tidak senang melihat Icha dengan lelaki lain menyelubungi hati Tara. Setelah melihat Icha dengan cowok lain, Tara langsung pulang dan mengurungkan niatnya membeli buku yang sudah ia incar selama sebulan terakhir. Di perjalanan pulang Tara merasa tidak senang ketika ia teringat Icha sedang makan bersama cowok lain. Ia merasa cemburu setengah mati. Sesampainya dirumah ia langsung bergegas menuju kamar dan membanting tubuhnya diatas kasur.
Ia berfikir sejenak, " Kenapa gue ngerasa cemburu pas ngeliat Icha makan ama cowok? Emang gue suka sama Icha, tapi apa gue cinta sama Icha?".

Dua hari berlalu Tara masih saja merasa cemburu. Saat bertemu Icha, ia langsung menghadang langkahnya dan bertanya dengan nada serius,"Cha elu udah punya cowok baru?".
"Enggak kok, emangnya kenapa kalo gue punya cowok baru?", jawab Icha.
"Cha...! Jangan bohong, lu uda punya cowok barukan?", seru Tara dengan nada tinggi.
"Ngapain sih elu nanya-nanya gitu sama gue, gue ga suka elu kaya gitu", jawab Icha lalu pergi.
Sejenak Tara merasa bersalah telah berbicara seperti itu kepada Icha. Lalu ia meminta maaf pada Icha.
"Cha gue minta maaf soal kemaren.
lu jangan marah ya sama gua" ucap Tara.
"Udah gue maafin. Gue ga suka elu begitu sama gue", jawab Icha santai.

Beberapa hari kemudian, tetap dimana Icha berulang tahun. Tara membulatkan tekad untuk mengutarakan perasaan cintanya tepat pada malam Icha berulang tahun. Ia mencoba menelfon Icha. Tetapi ia gagal tersambung oleh Icha, dan akhirnya ia hanya mengirimkan sms ucapan selamat pada Icha. Keesokan harinya, Tara terbangun dari tidurnya dikarenakan suara sms dihapenya. Ternyata Icha mengSMS dirinya,"Tar, tadi malem gue mimpi ditembak sama cowok. Gue seneng banget. Tapi yang gue sebel muka cowok itu ga bisa gue inget, tapi gue kenal banget sama dia. Kira kira siapa ya Tar?". Membaca SMS Icha, Tara merasa mendapat angin positif dari mimpi Icha dan Ia memberanikan diri untuk menembak Icha di sekolah.

          Ketika jam istirahat tiba, Tara bergegas mencari Icha dikantin dan ia menemukanya sedang duduk sendiri di meja paling pojok. Ia langsung menghampiri Icha yang sedang ngoles selai kacang kesukaanya pada roti tawar.
"Cha gue pengen ngomong serius sama elo", ujar Tara.
"Ngomong aja, ga usah sungkan sungkan", jawab Icha.
"Cha gue tau gue ini bodoh masalah cinta, gue ini cupu. Tapi saat gue ngeliat elu sama cowok lain,gue ngerasa cemburu setengah mati. Dan gue sadar bahwa selama ini gue suka sama elu . Cha. Gue cinta sama elu. I want you be my girl", ucap Tara dengan serius.

Mendengar pernyataan Tara, tiba-tiba Icha berlari menjauhi Tara. Seketika itu Semua perhatian orang di sekitar kantin tertuju pada mereka berdua. Kejadian itu membuat Tara sangat sedih, pikiranya terganggu. Semua yang ia kerjakan tak beres karna ia tidak dapat berkonsentrasi. Tidurnya gelisah, di dalam otaknya terdapat pertanyaan besar, mengapa Icha menghindar dan menangis begitu? Hampir semalaman suntuk Tara tak bisa tidur.

Keesokan harinya Tara datang kesekolah pagi sekali untuk berbicara empat mata dengan Icha. Tetapi kenyataanya hingga pelajaran berlangsung, Icha tidak kunjung datang. Melihat Tara sedari tadi bengong melulu, Dion mengagetkanya, " Woy...ngapain elu sob? Bengong melulu kaya kamping conge.
Kalo elu punya masalah sher dong ke gue".
"Sory gue bengong. Makasih Dio, tapi gue harus nyelesain masalah
gue sama someone itu dengan tanggan gue sendiri", jawab Tara.
" Oh ya udah kalo gitu, good luck deh. Semoga semua problem lu bisa cepet clear and lu ga bengong mulu. Kaya gak ada kerjaan aja elu bengong mulu sob", ujar Dion.
" Thanks Dio", jawab Tara singkat.

Hari itu Icha tidak masuk sekolah. Ribuan sms Tara sekedar menanyakan kabar Icha telah Tara kirim untuknya. Tetapi tak satu pun balasan yang Tara dapat. Jam demi jam Tara lewati dengan melamun, memutar kembali kejadian dikantin. Dimana saat itu air mata Icha yang tak tertahan membasahi pipinya. Kemudian Tara pergi ke ruang makan, tepat di meja makan terdapat roti dan selai kacang yang mengingatkan indahnya senyum Icha ketika sedang menyantap roti dengan selai kacang. Lalu Tara mengambil roti itu dan mengolesinya dengan selai kacang sambil membayangkan binaran mata indah Icha dan cantik wajahnya. Dimakanya roti selai kacang itu, tapi entah mengapa roti dengan selai kacang itu terasa berbeda.Tara tidak bisa merasakan manisnya roti selai kacang itu. Rasanya hambar, tak sama rasanya ketika berdua dengan Icha. "Cha kenapa pas gue pengen makan roti selai kacang ini gue ga bisa nikmatin roti ini tanpa elu Cha? Kenapa roti ini terasa hambar? Apa rasa roti ini mencerminkan rasa sedih gue tanpa kehadiran elu?" tanya Tara dalam hatinya.

Sore hari menjelang. Tara pergi keluar rumah untuk berjalan-jalan menghibur dirinya yang sedang sedih. Ia pergi ketaman melihat anak-anak kecil yang riang bermain. Tetapi itu tidak cukup untuk membuat Tara tersenyum. Tiba-tiba langit di angkasa berubah menjadi kelabu, awan mendung pun datang. Tara tidak memperdulikan lagi hujan akan datang. Secara tak sengaja Tara melihat Icha yang bersama teman-temanya beranjak pulang.
Tara memangil Icha," Cha..! Icha..! Gue mau ngomong".Mendengar Tara memangil Icha, teman-teman Icha menyarankanya untuk menemui Tara dan mereka menunggu di depan gerbang taman. Akhirnya Tara berhasil menemui Icha, dan ia menggenggam kedua tangan Icha
dan mencurahkan semua isi hatinya.
" Cha kenapa lu ngehindar dari gue? Kenapa lu gak kasih kabar ke gue?
Kenapa Cha?" tanya Tara dengan serius.
Tiba-tiba Icha menangis, air matanya tak kuasa ia bendung lagi.
Saat itu juga hujan datang dengan deras membasahi mereka berdua.
" Cha kenapa elu sekarang menangis?
Elu tau, Gue sedih banget ketika elu ga masuk dan ga mau ketemu sama gue. Pikiran gue kacau. Gue gelisah. Gue ga bisa tidur. Gue ga bisa kehilangan elu. ", ujar Tara bertubi-tubi.
Mendengar semua perkataan Tara Icha semakin tersedu-sedu.
"Tar, gue ga bisa jawab pertanyaan elu, gue ga bisa njelasinya. Gue ga sanggup Tar..", jawab Icha dengan tangis
" Tapi kenapa Cha? ", tanya Tara.
Akhirnya Icha melepaskan genggaman Tara dan berlari menjauhinya. Hujan semakin deras dan petir menyambar-nyambar. Tinggalah Tara sendiri ditaman. Rasa dinginya hujan terkalahkan oleh kesedihanya yang teramat dalam. Dan ia akhirnya menjatuhkan air mata bersama dengan deraian air hujan.

 Dua hari kemudian. Terdapat sebuah surat berwarna biru muda di atas meja Tara. Dibukan surat itu oleh Tara. Tenyata surat itu dari Icha dan Tara membaca surat itu dengan seksama.

 Tara ..

Maaf banget atas kejadian di kantin dan di taman.
Maaf karna gue ga ngebales sms lu..
Maaf gue pasang muka cemberut sama lu..
Gue ga bisa jawab dan ngejelasin semua pertanyaan elu ditaman.
Gue ga sanggup Tara....
Gue gak sanggup bikin lu kecewa..
Gue juga sayang sama elu...
Tapi gue harus pergi...
Maaf Tara.....
Jangan pernah lupain gua ya Tar..
 si gadis selai kacang.

Icha..

  Membaca surat dari Icha ingin rasanya Tara berteriak dan menangis. Tetapi ia mencoba menahanya sekuat tenaga. Ketika Tara selesai membaca surat dari Icha dan menyimpanya di kantong celananya.
Lidya teman sebangku Icha datang dan berkata," Tar sabar ya, ga ada maksud Icha buat elu jadi sedih.Dia emang harus pergi keluar kota ikut orang tuanya. Tapi Icha tuh sayang banget sama elu Tara". 
" Makasi ya Lidya", jawab Tara.
Beberapa minggu kemudian, Tara kembali tersenyum lagi seperti dulu. Ia akan tetap menyimpan surat dari Icha dilemarinya hingga ia bisa bertemu lagi denganya.


Tiga tahun berlalu,  sekarang ia berada di kelas XII di SMA. Tara telah berkali-kali jatuh cinta dan merasakan indahnya cinta. Kenanganya bersama Icha tidak membuatnya trauma akan cinta. Ia menganggap Icha adalah cinta pertamanya yang tak akan pernah ia kupakan. Walaupun itu menyedihkan, tetapi tetap ia nikmati kenangan bersama Icha. Tetapi ada satu hal yang tak bisa berubah hingga saat ini, Mengapa roti dengan selai kacang ini tetap terasa hambar?



END.....




cerita ini adalah tugas Bahasa Indonesia gue waktu SMA, dan ini merupakan cerita fiksi pertama yang gue pernah bikin selama gue hidup, judul dan tema cerita terinspirasi dari salah satu kalimat di novel Raditya Dika " marmut merah jambu"... 

::hahaha:: maaf  kalo terlihat amatir dan berlebihan... ^_^  maklum masih labil.. ::ngahahahaha::